1.10.2018


Mereview sebuah film merupakan hal yang susah-susah-gampang. Selain harus obyektif, saya harus mempertanggung-jawabkan setiap kata yang saya tulis kelak. Sudah banyak sekali artikel yang berisikan tentang review, opini, dan kritik untuk film karya Guntur Soeharjanto. ini. Tulisan saya kali ini, hanyalah pandangan saya secara jujur dan masih amatir dalam mereview sebuah film.

Film Ayat-Ayat Cinta 2 ini dimulai dengan adegan mencekam yang terjadi di Palestina. Yang mana pada saat itu, ada Aisyah yang sedang bertugas menjadi relawan. Singkat cerita, Aisyah terkena bom yang dijatuhkan dari pesawat tentara Israel. Lalu, opening title film tersebut.

Kemudian, dimulailah adegan-adegan menggelikan dalam film ini. Dimulai dari kebaikan Fahri pada murid-muridnya (pada film sekuel ini, Fahri telah sukses menjadi dosen dan pengusaha), kebaikan Fahri pada tetangganya; Keira, Jason, Brenda, dan Oma Catharina, kebaikan Fahri pada Sabina (tunawisma yang kemudian dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga dirumahnya), dan kebaikan-kebaikan Fahri yang lain. Memang siapapun bebas menciptakan karakter dalam sebuah film fiksi. Sah-sah saja. Namun bagi saya, karakter Fahri ini dibentuk nyaris sempurna untuk ukuran manusia dalam kehidupan nyata.

Perlu diingat, film dan segala macam drama komersil tentunya dibuat untuk memenuhi kebutuhan konsumennya. Mungkin saja film ini memang dibuat untuk memenuhi nafsu para wanita-wanita yang memimpikan lelaki sempurna seperti Fahri di kehidupan nyata. Dan bisa dikatakan berhasil, film ini telah menjual tiket sebanyak 2.577.980 buah. Walaupun, entah setelah menonton film tersebut, para manusia yang membeli tiket itu keluar dengan hati yang puas atau hati yang menyesal-telah-membeli-tiket-nonton.

Dengan jujur saya katakan, bahwa film ini berhasil membuat saya menangis sesegukan di dalam teater bioskop (ya, walaupun teman-teman saya tidak ada yang menangis saat menonton film ini bersama). Mungkin saja saya menangis karena dari sudut pandang wanita, siapapun pasti hancur ketika dipoligami untuk yang kedua kalinya. Atau mungkin juga saya menangis-kesal karena kekonyolan Fahri yang tidak sadar selama ini Sabina (asisten rumah tangga di rumahnya) itu adalah Aisyah. Kalau Fahri itu bukan karakter fiktif, rasanya ingin saya maki-maki saja kalau bertemu nanti. Untung saja Fahri hanya karakter buatan, bisa-bisa saya terkena pasal pencemaran nama baik.

Dan film ini ditutup dengan adegan yang membuat saya sangat speechless. Hulya memohon Aisyah untuk melakukan prosedur transplantasi wajah, memindah wajah Hulya ke Aisyah. Mengapa? Karena Hulya yang pada saat-saat terakhir film itu sudah sekarat, ingin anaknya tetap bisa melihat wajahnya ketika tumbuh nanti. Sah-sah saja memang, ini film fiksi, apa saja bisa terjadi.

Namun menurut data yang saya kutip dari tirto.id, yang dirangkum dari beberapa sumber; The Telegraph, The Guardian, dan CNN,  setelah operasi transplantasi wajah, pasien akan memerlukan waktu 3 bulan untuk menelan dan berbicara, 2 tahun untuk tersenyum, dan 8 tahun untuk berkembang.

Cerdiknya sutradara dan tim dalam film ini adalah pada saat ending film ini, Aisyah mengenakan cadar bersama anak Hulya yang sudah berusia balita. Yang artinya, kita tidak bisa membenar atau salahkan logika dalam dunia medis, karena wajahnya tertutup cadar.

Demikian review sederhana dan amatir yang saya buat untuk keperluan memenuhi tugas UAS di kampus saya. Kurangnya saya memohon maaf. Terimakasih.