Mereview
sebuah film merupakan hal yang susah-susah-gampang. Selain harus obyektif, saya
harus mempertanggung-jawabkan setiap kata yang saya tulis kelak. Sudah banyak
sekali artikel yang berisikan tentang review, opini, dan kritik untuk film
karya Guntur Soeharjanto. ini. Tulisan saya kali ini, hanyalah pandangan saya
secara jujur dan masih amatir dalam mereview sebuah film.
Film Ayat-Ayat Cinta 2 ini dimulai
dengan adegan mencekam yang terjadi di Palestina. Yang mana pada saat itu, ada
Aisyah yang sedang bertugas menjadi relawan. Singkat cerita, Aisyah terkena bom
yang dijatuhkan dari pesawat tentara Israel. Lalu, opening title film tersebut.
Kemudian, dimulailah adegan-adegan
menggelikan dalam film ini. Dimulai dari kebaikan Fahri pada murid-muridnya
(pada film sekuel ini, Fahri telah sukses menjadi dosen dan pengusaha),
kebaikan Fahri pada tetangganya; Keira, Jason, Brenda, dan Oma Catharina, kebaikan
Fahri pada Sabina (tunawisma yang kemudian dipekerjakan sebagai asisten rumah
tangga dirumahnya), dan kebaikan-kebaikan Fahri yang lain. Memang siapapun bebas
menciptakan karakter dalam sebuah film fiksi. Sah-sah saja. Namun bagi saya,
karakter Fahri ini dibentuk nyaris sempurna untuk ukuran manusia dalam kehidupan
nyata.
Perlu diingat, film dan segala macam drama komersil tentunya dibuat untuk memenuhi kebutuhan konsumennya. Mungkin saja film ini memang dibuat untuk memenuhi nafsu para wanita-wanita yang memimpikan lelaki sempurna seperti Fahri di kehidupan nyata. Dan bisa dikatakan berhasil, film ini telah menjual tiket sebanyak 2.577.980 buah. Walaupun, entah setelah menonton film tersebut, para manusia yang membeli tiket itu keluar dengan hati yang puas atau hati yang menyesal-telah-membeli-tiket-nonton.
Dengan
jujur saya katakan, bahwa film ini berhasil membuat saya menangis sesegukan di
dalam teater bioskop (ya, walaupun teman-teman saya tidak ada yang menangis
saat menonton film ini bersama). Mungkin saja saya menangis karena dari sudut
pandang wanita, siapapun pasti hancur ketika dipoligami untuk yang kedua kalinya.
Atau mungkin juga saya menangis-kesal karena kekonyolan Fahri yang tidak sadar
selama ini Sabina (asisten rumah tangga di rumahnya) itu adalah Aisyah. Kalau
Fahri itu bukan karakter fiktif, rasanya ingin saya maki-maki saja kalau
bertemu nanti. Untung saja Fahri hanya karakter buatan, bisa-bisa saya terkena
pasal pencemaran nama baik.
Dan
film ini ditutup dengan adegan yang membuat saya sangat speechless. Hulya memohon Aisyah untuk melakukan prosedur transplantasi
wajah, memindah wajah Hulya ke Aisyah. Mengapa? Karena Hulya yang pada saat-saat
terakhir film itu sudah sekarat, ingin anaknya tetap bisa melihat wajahnya
ketika tumbuh nanti. Sah-sah saja memang, ini film fiksi, apa saja bisa
terjadi.
Namun
menurut data yang saya kutip dari tirto.id, yang dirangkum dari beberapa
sumber; The Telegraph, The Guardian, dan CNN,
setelah operasi transplantasi wajah, pasien akan memerlukan waktu 3
bulan untuk menelan dan berbicara, 2 tahun untuk tersenyum, dan 8 tahun untuk
berkembang.
Cerdiknya
sutradara dan tim dalam film ini adalah pada saat ending film ini, Aisyah mengenakan cadar bersama anak Hulya yang
sudah berusia balita. Yang artinya, kita tidak bisa membenar atau salahkan
logika dalam dunia medis, karena wajahnya tertutup cadar.
Demikian
review sederhana dan amatir yang saya buat untuk keperluan memenuhi tugas UAS di kampus saya. Kurangnya saya memohon maaf.
Terimakasih.
